f t g m
  • Pemberdayaan Dampingan

  • Perkunjungan Rumah

  • Perkunjungan Rumah

  • Pembagian Nutrisi

  • Kontrol Kesehatan di Klinik Christami

  • Praktek Pembuatan Makanan Bergizi

  • Pemberian Informasi & Makanan Bergizi

  • PHBS dan Pastoral

Copyright 2019 - Custom text here

Jenazah Tidak Dibawa Pulang

 

Kentalnya Stigma dan Diskriminasi, Dari Kamar Mayat Langsung ke TPU

Saudari Donna (nama samaran) sudah cukup lama dibiarkan terbaring di rumah dalam kondisi sakit. Pihak keluarga tidak mengetahui penyakit yang dideritanya. Terbaring tanpa pertolongan membuat penyakit yang dideritanya semakin kronis dan Donna tak bisa bangun ataupun merangkak dari pembaringannya (lumpuh). Fisik tubuhnya yang dahulu sehat kini terlihat sangat kurus, tinggal kulit yang hanya membungkus tulang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sepertinya Donna sudah terlambat mendapat pertolongan dan nyawanya dalam keadaan terancam.

Tepatnya pada hari Kamis tanggal 7 September 2011 pihak keluarga saudari Donna menghubungi YPKM Papua untuk melihat kondisi Donna karena ciri-ciri penyakit yang dideritanya mirip penyakit AIDS. Tim Pelayanan Kesehatan YPKM Papua segera ke rumah keluarga Donna dan langsung membawanya ke RSUD Abepura untuk mendapatkan perawatan yang semestinya. Dari hasil tes darah diketahui bahwa saudari Donna menderita penyakit AIDS dan berada pada stadium IV. Donna kemudian dibawa ke Pondok Christami untuk dirawat dan didampingi oleh YPKM Papua. Namun kondisinya yang semakin kritis, akhirnya Donna dibawa kembali ke RSUD Abepura dan opname disana. Segala upaya untuk menyelamatkan nyawa Donna dilakukan oleh Tim medis RSUD Abepura bersama petugas YPKM Papua, namun sayang......, nyawa saudari Donna tidak dapat diselamatkan. Saudari Donna meninggal pada hari Senin tanggal 12 September 2011 sekitar jam 11 malam. Jenazahnya kemudian dibawa ke kamar mayat dan perawatan jenazah dilakukan oleh saudara Johns Kusmawan.

 Jenazahnya tidak disemayamkan di rumah keluarga tetapi berada di kamar mayat RSUD Abepura. Segala kebutuhan jenazah diurus oleh YPKM Papua. Setelah jenazah dimasukan ke dalam peti jenazah, dilakukan ibadah pelepasan di kamar jenazah yang dipimpin oleh Pdt. Simon Sigarlakie,  yang adalah karyawan YPKM Papua. Hingga saat itu, dari pihak keluarga yang hadir hanya Om dan Tantenya Donna, selebihnya adalah karyawan YPKM Papua. Setelah ibadah pelepasan, peti jenazah di masukan ke dalam mobil Ambulace YPKM Papua untuk diantar ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Hitam pada jam 3 sore hari Senin itu juga.

 Ibadah Pemakaman kembali dipimpin oleh Pdt. S. Sigarlakie. Yang hadir saat pemakaman adalah :

  • Pihak keluarga 2 orang (Om dan Tantenya Donna)
  • Karyawan YPKM Papua 7 orang, termasuk Pendeta Sigarlakie
  • Pekerja Makam 5 orang

Dari cerita di atas dapat disimpulkan bahwa pihak keluarga masih merasa takut ataupun malu bila orang lain (tetangga) mengetahui kalau saudari Donna meninggal karena penyakit AIDS, sehingga jenazahnya tidak disemayamkan di rumah keluarga. Jelas sekali bahwa stigma dan diskriminasi terhadap ODHA masih tinggi, walaupun keluarganya menetap di tengah Kota Jayapura. Fakta berikutnya adalah, selama berada di Pondok Christami dan RSUD Abepura hanya dijaga oleh tantenya seorang diri, saudara maupun kerabat yang lain tidak ada yang menjenguk.

Kejadian ini sangat memprihatinkan bagi kita semua. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui informasi yang benar tentang HIV dan AIDS, sehingga stigma dan diskriminasi masih sangat terasa diKejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua agar lebih efektif dalam memberikan informasi tentang HIV/AIDS. Kalau stigma dan diskriminasi masih tinggi berarti masyarakat belum mengerti dengan baik apa itu HIV/AIDS. Kalau sudah tidak mengerti bagaimana mereka menjaga diri mereka dari penyakit tersebut ? Hal ini sangat menyedihkan bagi pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Tanah Papua. (Kalva)