f t g m
  • Pemberdayaan Dampingan

  • Perkunjungan Rumah

  • Perkunjungan Rumah

  • Pembagian Nutrisi

  • Kontrol Kesehatan di Klinik Christami

  • Praktek Pembuatan Makanan Bergizi

  • Pemberian Informasi & Makanan Bergizi

  • PHBS dan Pastoral

Copyright 2019 - Custom text here

Wesly Kosay

 

N a m a : Wesley Kosay

Tempat Tgl. Lahir : Wamena, 3 Desember 1983 

Agama : Kristen Protestan

 Nama Ayah : Walo Kosay 

Nama Ibu : Mera Imban Pagawak

 Anak ke : 2 dari 4 bersaudara 

 Wesley duduk di bangku pendidikan hanya sampai kelas 2 (dua) SMP negeri 1 Wamena.

Pada tahun 2005 sudah mulai sakit dengan gejala demam, rambut rontok dan mencret-mencret. Kemudian drop hingga lumpuh (tidak bisa berjalan). Pada saat itu saya masih tinggal bersama kedua orang tua dan saudara saya di kampung Tulen, Kurulu.

 

Masa 2005 – 2006 saya menderita sakit hingga lumpuh dan di tempatkan di satu honay khusus dan di rawat oleh Ibu dan seorang adik perempuannya. Pada waktu itu orang tua dan keluarga saya menduga ia terserang penyakit karena melanggar pantangan atau aturan adat ( menurut kepercayaan adat kami). Sehingga orangtua saya melakukan pesta/ritual adat untuk menolak bala (penyakit) yang menimpa saya. Sudah 9 (Sembilan ) ekor babi dan biaya yang besar dikeluarkan orang tua saya untuk melaksanakan ritual-ritual adat. Namun penyakit yang saya derita tak kunjung sembuh-sembuh.

Pada tahun 2007 saya dikirim oleh orang tua saya untuk berobat ke Jayapura. Di Jayapura saya di jemput oleh ipar saya ,Pdt. Yohanes Kombo (menikah dengan kakak perempuan saya) dan tinggal bersama mereka di Tanah Hitam.

Pada tanggal 20 Desember 2007 saya menjalani tes HIV/AIDS di RSUD Abepura. Setelah mengetahui bahwa positif, saya langsung ditangani oleh dr. Nyoman. 

Karena berbagai permasalahan terjadi di tempat kakak ipar saya itu membuat beban pikiran saya semakin bertambah, hingga akhirnya saya disarankan oleh dr. Nyoman agar sebaiknya saya masuk ke Pondok Christami YPKM Papua. Akhirnya pada bulan Mei 2008, saya sah sebagai penghuni Pondok Christami. Pengobatan dan perawatan semuanya saya jalani di Pondok Christami.

Akhirnya saya menyadari perilakunya yang beresiko membuat saya seperti ini. Mabuk-mabukan dan seks bebas sering saya lakukan bila turun dari kampung ke kota Wamena, yang akhirnya membuat hidup saya menderita. 

Sejak di pondok saya merasa hidup kembali. Semangat hidup saya mulai bangkit. Dulu kalau masih tinggal dengan kakak, mungkin saya sudah mati. Sekarang saya sudah merasa sehat dan tidak ada beban pikiran apapun.

Selama di pondok saya sudah dua kali dengan YPKM ke Wamena. Saya sempat pulang ke kampung untuk melihat orang tua. Di kampung saya Cuma bisa didekati oleh kedua orang tua dan adik perempuan saya. Sementara yang lainnya tidak berani mendekati saya. Stigma dan diskriminasi masih sangat terasa di kampung saya, masyarakat belum bisa menerima saya layaknya orang normal. 

Sekarang ini saya sedang beternak babi. Saya berharap babi yang saya pelihara dapat berkembang menjadi suatu usaha agar dapat menopang kehidupan saya.

 

Saya juga pada bulan Januari 2010 telah mengikuti kursus mengemudi selama 20 (dua puluh) hari. Bapak Raflus yang membiayai kursus saya di tempat kursus mengemudi Bhayangkari. Saya sudah bias mengendarai mobil, kalau ada yang butuh sopir saya bisa. Saya berharap suatu waktu saya dapat membantu YPKM-Papua sebagai sopir ambulans.

Saya bercita-cita ingin bekerja sama seperti orang lain dan jalani kehidupan sebagai manusia normal. Saya juga ingin berumah tangga agar memiliki keturunan........., tutur Wesley mengakhiri ceritanya. (Kalva)