Sipora

Category: Testimoni
Published: Monday, 27 August 2018 07:16
Written by Super User
Hits: 293

Nama lengkap : SIPORA ADOLINA IRIANTI INHWAR

Tempat Tgl. Lahir : Sarmi, 4 September 1983

Asal daerah/suku : Sarmi

Pendidikan : SMP

Alamat Sekarang : Depan SD Negeri 3 Abepura.

Nama Suami : Andre Tokan

Asal daerah : Flores, NTT

Pekerjaan : Karyawan pada Toko Agro, Kali Acai Abepura.

Nama Ayah : Andris Kurni

Nama Ibu : Helen Inhwar

Anak ke : pertama dari 4 (empat) bersaudara

 

Setelah menamatkan Sekolah Dasar (SD) di Sarmi, saya mengikuti Om saya (saudara mama) ke Jayapura, tepatnya di Arso dan disana saya melanjutkan sekolah ke SMP sampai tamat.

Kemudian saya menikah dengan suami pertama saya yang bernama Vicky Wernusa. Suami saya seorang sopir taksi, dan kita telah dikaruniai seorang anak yang bernama Kevin. Kevin sudah berumur 7 (tujuh) tahun dan sekarang tinggal bersama saya. Bapaknya telah meninggal karena sakit.

Setahun setelah kepergian suami saya, saya berpacaran lagi dengan seorang sopir taksi yang bernama Orin asal Ambon (Maluku). Bersama Orin saya sering curiga sebab kalau berhubungan seks Orin selalu tidak mau menunjukan alat kelaminnya untuk saya lihat dan juga selalu Orin ingin melakukan hubungan seks hanya pada tempat yang gelap, tidak mau kalau ada penerangan/lampu. Selain itu bau badannnya seperti bau penyakit kelamin. Pokoknya tidak enak sekali dipenciuman saya. Akhirnya saya pergi meninggalkan Orin.

 

Setelah Orin, Andre (sekarang suami saya) datang ke tempat kost saya di Entrop dan memberitahukan kepada mama saya kalau dia ingin hidup dengan saya. Mama akhirnya menerima Andre dan merestui hubungan kita.

Setahun selepas Orin (saya sudah bersama Andre) yaitu pada tahun 2006, saya mulai jatuh sakit. Saya panas-dingin (deman), buang-buang air, berat badan turun drastic  dan gatal-gatal di sekujur tubuh sehingga saya garuk-garuk sampai banyak luka di tubuh saya. Mama bawa saya untuk periksa ke rumah sakit, namun disangka penyakit biasa jadi saya Cuma periksa darah Malaria. Saya, Andre dan mama tidak tahu kalau saya sebenarnya telah terinfeksi HIV.

Penyakit saya bertambah berat dan Bapak tua (kakak Bapak saya) di Sarmi meminta agar saya pulang ke Sarmi untuk diperiksa, jangan-jangan kena Tangan Orang. Bapak tua seorang para normal. Setelah melihat-lihat dalam wadah (loyang) berisi air ternyata tidak ada petunjuk bahwa saya kena tangan orang.

Kemudian saya dibawa ke Rumah Sakit Sarmi untuk diperiksa. Dari hasil pemeriksaan saya telah mengidap penyakit Paru. Test VCT belum ada di RS Sarmi sehingga saya dirujuk ke RSUD Abepura untuk pemeriksaan VCT.

Awal tahun 2008 saya berada di RSUD Abepura untuk mengikuti Test VCT dan hasilnya Positif. Saya langsung opname di RSUD Abepura dan mulai strart minum obat ARV.

Saat itu saya langsung down (stress) karena pasti saya akan ditolak oleh keluarga. Dan memang benar kalau mama dan Kevin lari meninggalkan saya setelah mengetahui penyakit saya. Demikian pula keluarga yang lain menolak saya dan saya dilarang ke rumah mereka.

Akhirnya saya dihibur oleh dr. Nyoman dan beliau katakana bahwa saya jangan putus asa karena ada Yayasan yang dapat menerima/menampung dan merawat saya. Kemudian dr. Nyoman menyurat ke YPKM-Papua untuk menerima saya.

Pada bulan Mei 2008 saya masuk ke Pondok Christami yang diantar oleh saudara Risal (staf YPKM-Papua). Saat itu penyakit saya sudah stadium 4 (empat). Sejak saat itu saya di rawat di Pondok Christami, hingga saat saya sudah merasa sehat dan menjalani kehidupan saya dengan normal seperti orang lain. YPKM-Papua juga sudah banyak melakukan pelatihan lifeSkill bagi saya dan teman-teman. Di Pondok juga kami bisa menerima informasi yang benar tentang HIV/AIDS dan kami juga dilatih untuk dapat bersaksi bagi orang lain.

Suami saya juga dirawat oleh YPKM-Papua. Kini dia sudah bekerja di Toko AGRO atas jasa baik Bapak Butarbutar.

Saya bersyukur karena anak saya Kevin tidak tertular virus HIV. Kevin kini telah berusia 7 (tujuh) tahun dan saya ingin dia bisa sekolah. Saya berharap bisa dapat kerja agar dapat menyekolahkan Kevin.

Saya berterima kasih karena YPKM telah memberi penjelasan kepada keluarga saya sehingga mereka dapat menerima saya kembali ke dalam keluarga. Mama dan Kevin juga sudah kembali tinggal dengan saya dan suami di tempat kost kami sekarang.

Saya sekarang aktif di beberapa organisasi sosial dan juga aktif bersaksi di berbagai gereja setiap hari Minggu. (Kalva).